Ya baiklah mungkin ini
kali pertama saya posting artikel pada blog pribadi, pertama saya mau
menyampaikan salam kepada kawan-kawan yang selalu berikan support. Artikel ini
terkait fenomena PILPRES yang akan segera kita rasakan. Sedikit banyak Quote yang saya dapat terinspirasi dari
senior saya.
Pentas pemilu CAPRES dan
CAWAPRES yang hanya dalam hitungan bulan lagi merupakan momen yang di
tunggu-tunggu seirng harapan baru rakyat Indonesia lima tahun kedepan, dalam
tatanan sosial pasti ada pemimpin dan yang di pimpin, dan setiap manusia
cenderung ingin menjadi pemimpin dengan asumsi seperti ini wajar rasanya elit
politik pusat sibuk dengan hiruk-pikuk koalisi agar dapat duduk menjadi orang
nomor satu dan nomor dua dinegri ini.
Issu
demokrasi yang sering didengung-dengungkan menunjukkan keperkasaan rakyat
mengatur kehidupan negri bardasarkan kedaulatan yang dimilikinya, semakin luas
refleksi rakyat dalam memaknai demokrasi maka semakin bijak pula rakyat dalam
menjawab persoalan-persoalan bangsa dan menentukan siapa pemimpin bangsa ini
kedepan.
Visi
dan Misi seakan lagu wajib elit politik agar tampil sebagai primadona di ajang
pemilu PILPRES yang akan datang atas
dasar cerminan kondisi diatas ini. Saya mengajak kita semua agar tidak terkonfaminasi
oleh janji yang sungguh kontradiktif
dengan realita kehidupan rakyat Indonesia sekarang. Ketika Visi dan
misi itu tidak dapat terpalisasi maka yang terjadi hanyalah bualan politik,
pembohongan public, serta pembodohan massa
yang semua itu bukan karekteristik berdemokrasi yang baik.
Saling
menyudutkan, itulah yang terjadi pada elit politik dewasa ini. Rangkaian
degradasi moral politik merupakan indicator bahwa demokrasi di republic ini telah dinodai oleh
politik yang seharusnya menjadi figure yang baik ditengah era reformasi yang
menjanjikan perbaikkan di segala bidang, seperti supremasi hukum, demokrasi,
bersih KKN, HAM, Dsb.
Apakah
elit politik seperti diatas mampu
menjaga konsistensi agar reformasi dan demokrasi dapat berjalan sesuai yang
diharapakan ? sebagai rakyat mempunyai kedaulatan penuh, sudah selayaknya kita
selektis dalam mencari pemimpin .
Maka
sebuah demokrasi dalam pemilu adalah sesuatu yang sacral demi perubahan yang
kontruktis dan solutis, perubahan itu sangat berkolerasi dengan siapa ytang
memimpin bangsa ini ke depan. Terhadap harapan itu mari sama-sama kita cermati
bagaimana pemimpn yang baik.
Figur
Pemimpin
Ditengah
kondisi seperti ini, rakyat butuh pemimpin yang mempunyai kreatifitas
kemandirian, kepeloporan, kerja keras, untuk memaksimalkan segenap potensi yang
ada agar dapat berkontribusi secara nyata, langsung dan kontruktis dalam setiap
proses pengambilan dan implementasi kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang
banyak, pemimpin harus mengaplikasikan budaya resormis sebagai modal dasar
demokrasi. Yang terbuka terhadap kritik, cenderung pada perbaikkan dan tidak
cenderung pada dominasi dan eksploitasi kekuasaan untuk kepentingan pribadi
atau kelompok.
Rakyat
Indonesia butuh pemimpin yang mempunyai Capacity,Capability,Credibility
yang memadai, bukan hanya pemimpin yang mengobral janji yang akhirnya rakyat
juga menjadi korban kebijakannya, rakyat tak butuh “Pahlawan Kesiangan” atau pun “Malaikat
Sementara” diantara hangar-bingar penderitaan rakyat terutama pasca krisis
keuangan global melanda dunia yang hingga pelosok negeri ini.
Bedakanlah
antara pemimpin dengan selebritis seperti yang dipaparkan oleh Daniel boortin “Pemimpin dikenal karena prestasi,
sedangakan selebritis dikenal karena keteranaran mereka, pemimpin mencerminkan
kemungkinan-kemungkinan pers dan media kaum selebritis adalah orang-orang
pembuat berita, tetapi pemimpin adalah orang-orang yang membuat sejarah”
berkaca pada hal diatas hendaknya kita semua cerdas memilah dan memilih figur
yang cocok untuk memimpin kita kedepan.
Koalisi
Dan Ambisi
Koalisi
yang tengah melanda elit politik pusat ini sebenarnya hanya antisipasi untuk
mengatasi sebuah kekalahan, bukan untuk mengawali sebuah perubahan elan vital
koalisi tersebut hanya membuat “Marginalisasi”
kepentingan rakyat yang sesungguhnya dan hal tersebut menjadi momen untuk
mengklaim bahwa merekalah yang pantas untuk menjadi pemimpin Negara ini
Konsep
koalisi hendaknya mengedepankan pola pikir intelektualisme dan pematangan
emosional yang biasanya ditandai dengan pola sikap yang progpresis, objektis,
rasional dan memihak pada kepentingan
rakyat, tetapi koalisi deawasa ini kerap
menjadi ajang pemenuhan obsesi dan ambisi pribadi lantas apakah koalisi elit
politik sekarang benar-benar koalisi yang konstuktif ?
Sistem
demokrasi memang memberikan peluang untuik siapa saja yang ingin menjadi
pemimpin akan tetapi dalam tantanan demokrasi sportifitas yang samgat perlu di
perhatikan hendaknya koalisi yamg dibangun elit politik, sekarang benar-benar
berorierntasi pada kepentingan masyarakat lemah dan maju untuk sebuah perubahan
yang lebih baik.
Sudah
sepantasnya rakyat berpikir realitis, professional, dan menyadari bahwa sejarah
di masa lalu di jadikan pelajaran untuk mengawali roda pemerintahan Negara ini
kedepan agar kita semua memiliki semangat perubahan sekaligus pengelola
kontiunitas pembaruan untuk memilih pemimipin. Karena pemimpin memiliki peran
strategis dalam perjalanan Negara Indonesia dalam melintasi zaman
menjadi sebuah Negara yang penuh keterhormatan, bukan sebuah Negara yang hanya
bertopeng demokrasi akan tetapi didalamnya penuh dengan keburukkan.
Sekarang
saatnya kita mengembangkan layar dengan semangat baru dan memenangkan pelayaran
tanpa batas ini, sungguh harapan kita semua bahwa siapa pun yang terpilih pada
pemilu PILPRES yang akan datang pemimpin terpilih tersebut akan menjawab semua
harapan di bumi pertiwi ini.

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !